JAKARTA - PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co tengah mematangkan strategi untuk mengakuisisi tujuh pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food. Langkah ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi industri gula nasional yang berada di bawah koordinasi pemegang saham.
Rencana Akuisisi dan Penandatanganan
Corporate Secretary SGN, Yunianta, menyatakan proses akuisisi diproyeksikan mencapai tahap penandatanganan pada akhir Maret atau awal April 2026. Rencana tersebut mencakup unit usaha yang dikelola oleh PT Rajawali I, PT Rajawali II, dan PG Candi Baru.
Menurut Yunianta, aksi ini bertujuan memperkuat struktur industri gula di Indonesia. “Prosesnya terus berjalan. Targetnya akhir bulan ini atau awal April kami sudah bisa melakukan signing,” ujarnya di Surabaya, Kamis, 12 Maret 2026.
Target Operasional Sugar Co 2026
Memasuki tahun buku 2026, SGN menetapkan target ambisius untuk volume tebu giling sebesar 14,5 juta ton. Proyeksi rendemen dipatok di kisaran 7,2%–7,3% sehingga diharapkan mampu memproduksi total gula sebanyak 1,07 juta ton pada tahun ini.
Secara finansial, perusahaan menargetkan laba kotor mencapai Rp1 triliun. Laba sebelum pajak dipatok sebesar Rp493 miliar, mencerminkan optimisme pemulihan setelah tantangan iklim dan fluktuasi harga komoditas pada 2025.
Evaluasi Kinerja 2025
Pada 2025, realisasi produksi berada di bawah target RKAP akibat anomali iklim basah. Produksi tercatat sebesar 882.000 ton, hanya sedikit meningkat dari capaian 2024 sebesar 851.000 ton.
Yunianta menjelaskan cuaca basah menurunkan kualitas tebu dan menghambat logistik saat pengangkutan hasil panen. “Jika rendemen stabil seperti 2023, produksi kami seharusnya bisa menembus 1 juta ton,” jelasnya.
Selain cuaca, pendapatan perseroan terpangkas lebih dari Rp500 miliar akibat anjloknya harga tetes tebu. Rata-rata harga turun dari Rp2.600 per kilogram menjadi Rp1.100 per kilogram pada 2025.
Strategi dan Dukungan Pendanaan
Untuk menjaga performa tahun ini, SGN menerapkan strategi front-loading atau pengadaan bahan baku dan energi pada awal tahun. Strategi ini membutuhkan likuiditas tinggi, namun perseroan telah mengamankan dukungan pendanaan dari sejumlah lembaga perbankan.
Meskipun fokus pada internal, SGN juga memperhatikan kondisi pasar nasional. Perusahaan mencatat kebijakan impor gula konsumsi tahun ini tetap nihil, sementara impor gula industri dibatasi ketat pada 3,1 juta ton.
Koordinasi Kebijakan Pemerintah
Pembatasan impor gula industri dianggap penting untuk mencegah rembesan ke pasar konsumsi domestik. “Kami terus berkoordinasi dengan kementerian terkait guna memastikan kebijakan pemerintah tetap memperkuat ekosistem industri gula dalam negeri,” kata Yunianta.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat kinerja Sugar Co, tetapi juga menstabilkan pasokan dan harga gula nasional. Konsolidasi dan ekspansi operasional menjadi strategi jangka panjang untuk menghadapi fluktuasi pasar global dan tantangan iklim.
Optimisme Industri Gula Nasional
Dengan target produksi 1,07 juta ton dan laba kotor Rp1 triliun, SGN optimistis menghadapi 2026. Akuisisi tujuh pabrik diharapkan semakin memperkokoh posisi perusahaan sebagai pemain utama industri gula nasional, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi operasional.
Perseroan berupaya menjaga kesinambungan pasokan gula bagi masyarakat dan industri. Dengan langkah strategis ini, Sugar Co siap menjadi motor penggerak penguatan industri gula domestik di tengah tantangan ekonomi dan iklim.