JAKARTA - Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) sekaligus Komandan Komando Nasional Resimen Mahasiswa (Dankonas Menwa) RI Ahmad Riza Patria menegaskan Menwa adalah garda terdepan bela negara di kampus. “Ini bukan sekadar jabatan, tetapi amanah dan pengabdian,” katanya di Kupang, Jumat, 20 Februari 2026.
Pernyataan ini disampaikan saat pelantikan Komandan Resimen Mahasiswa Mahadana NTT di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada Kamis, 19 Februari 2026 sore. Acara ini juga dihadiri langsung oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena yang dinobatkan sebagai Anggota Kehormatan Resimen Mahasiswa Mahadana NTT.
Peran Strategis Menwa dalam Pembangunan dan Karakter Generasi Muda
Ahmad Riza menekankan penguatan Resimen Mahasiswa sebagai bagian penting strategi bela negara, pembangunan desa, dan pembinaan karakter generasi muda di wilayah perbatasan. Ia menegaskan pelantikan komandan Menwa bukan sekadar seremonial, tetapi momentum tanggung jawab kebangsaan yang nyata.
Dalam kesempatan itu, Riza mengisahkan sejarah Resimen Mahasiswa Indonesia yang didirikan pada 1959-1963 sebagai wadah bela negara bagi mahasiswa. Ia menambahkan, Menwa harus setia terhadap kepentingan besar negara dan memberi dampak bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.
Sejarah dan Filosofi Menwa dalam Sistem Pertahanan Nasional
“Menwa digagas oleh Jenderal AH Nasution untuk memperkuat Komponen Cadangan Pertahanan NKRI pada 1959, karena cakupan wilayah Indonesia sangat luas namun personil terbatas,” ujar Riza. Lebih dari itu, Menwa kini harus hadir di masyarakat, mendampingi program pemerintah hingga pelosok desa.
Ia juga mengingatkan agar Menwa melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan tertib. Hal ini untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berwawasan luas, kreatif, mandiri, berjiwa patriot, dan berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Riza menegaskan pertahanan negara adalah tanggung jawab seluruh warga berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2019. “Menwa adalah wujud nyata keterlibatan generasi intelektual dalam sistem pertahanan semesta. Mahasiswa harus tangguh secara mental, disiplin, dan kokoh dalam komitmen kebangsaan,” ujarnya.
Ia juga mengulas sejarah pembentukan Menwa sejak era Presiden Soekarno atas gagasan Jenderal AH Nasution dalam konsep pertahanan rakyat semesta. Riza mengakui bahwa pasca reformasi eksistensi Menwa sempat menurun di sejumlah kampus, dan kini ia ingin Menwa kembali jaya dengan karakter, integritas, dan moral yang kuat.
Harapan Rektor Undana terhadap Menwa Mahadana
Rektor Undana, Prof Jefri S Bale, saat dihubungi Jumat, 20 Februari 2026 pagi, menaruh harapan besar kepada jajaran Menwa Mahadana. Ia berharap Menwa adaptif dalam setiap perubahan dan menjadi agen perubahan dalam pembangunan bangsa.
“Ada beberapa harapan yang ingin saya sampaikan. Pertama, agar Menwa dapat terus adaptif dalam menjaga keseimbangan peran, menuntut ilmu, menyelesaikan studi tepat waktu, dan menghasilkan karya akademik bermutu yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar dia.
Harapan kedua, menjadi kader penggerak perubahan dengan memanfaatkan jiwa korsa untuk membangun kolaborasi dan komitmen bagi masa depan yang lebih baik. Sedangkan harapan ketiga, meningkatkan sinergitas dalam membangun bangsa dengan terus hadir di pelosok desa.
Terakhir, Prof Jefri menekankan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur dan menjaga nama baik korps Menwa dimanapun berada. Ia berharap setiap anggota Menwa terus berkontribusi pada pembangunan desa dan penguatan karakter generasi muda.