JAKARTA - Jelang akhir Februari 2026, Danantara siap mengumumkan pemenang tender proyek sampah menjadi energi atau waste-to-energy tahap pertama. Sebanyak 24 perusahaan, mayoritas dari luar negeri dan bergerak di bidang teknologi, telah lolos seleksi awal.
Seluruh peserta wajib menggandeng mitra domestik. Strategi ini membuka peluang bagi emiten BEI yang sudah memiliki pijakan di rantai nilai WTE, mulai dari pengembang proyek hingga penyedia material dan infrastruktur pendukung.
Konsorsium dan Transfer Teknologi
Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy BPI Danantara, menekankan pentingnya transfer teknologi. Konsorsium peserta tender diharapkan bisa mentransfer pengetahuan kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda).
Untuk tahap pertama, pengembangan program WTE difokuskan di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Proyek ini sekaligus menjadi uji coba model pengelolaan sampah menjadi energi skala nasional.
Danantara memastikan tata kelola yang transparan. “Tender ini menunjukkan Danantara selalu memastikan proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik berbasis mitigasi risiko,” kata Fadli pada Senin, 16 Februari 2026.
PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)
MHKI telah lama membangun basis bisnis di sektor pengelolaan limbah. Perusahaan ini beroperasi di Bantargebang, Bekasi, dan kini memperluas jangkauan ke Lamongan, Jawa Timur.
Meskipun belum mengoperasikan fasilitas listrik berbasis sampah, MHKI memegang peran penting di sisi hulu rantai pasok. Pengumpulan dan pengolahan awal limbah menjadi fondasi utama keberhasilan proyek PSEL.
MHKI memperoleh dukungan pembiayaan dari BRI senilai sekitar Rp4,95 miliar. Dengan model bisnis yang sudah menghasilkan arus kas, eksposurnya cenderung defensif dan bertahap.
Jika terlibat dalam proyek Danantara, MHKI kemungkinan berperan sebagai mitra pengelola limbah. Perusahaan ini akan fokus pada pengelolaan awal dibandingkan menjadi pengembang utama pembangkit.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)
BIPI bersiap menjalankan proyek WTE dengan nilai investasi sekitar US$300-350 juta. Proyek ini sudah digarap lebih dari tiga tahun terakhir meski sempat mengalami penyesuaian kebijakan pemerintah.
Studi kelayakan dan skema pendanaan telah memasuki tahap akhir. Jika terealisasi, proyek ini berpotensi menjadi katalis besar bagi diversifikasi pendapatan BIPI di luar bisnis batu bara.
Langkah ini sejalan dengan mandat pemerintah dalam mendorong transisi energi bersih. Percepatan WTE menjadi bagian strategi nasional mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
IMPC memasuki sektor WTE melalui anak perusahaannya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). SKI menjalin kerja sama dengan PT CCEPC Indonesia untuk pengembangan proyek WTE di Bali.
SKI menangani pendanaan dan investasi, sementara CCEPC fokus pada aspek teknis sebagai EPC dan operator O&M. Kolaborasi mencakup studi kelayakan, survei lokasi, dan analisis karakteristik sampah.
CCEPC memiliki rekam jejak lebih dari dua dekade di infrastruktur energi ramah lingkungan. Teknologi yang dibawa CCEPC menjadi nilai tambah bagi IMPC di lini bisnis WTE.
Walaupun masih pra-konstruksi, WTE berpotensi melengkapi inisiatif daur ulang dan ekonomi sirkular IMPC. Kontribusi laba dari segmen ini masih bersifat menengah hingga panjang.
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)
OASA menjadi emiten WTE yang paling dekat dengan realisasi proyek. Perusahaan telah mempersiapkan pembangunan dua proyek PSEL di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan sebelum Danantara berdiri.
Konstruksi ditargetkan 2026-2027 dengan operasi komersial bertahap 2028 dan kapasitas penuh pada 2029. PSEL Jakarta Barat berkapasitas 35,3 MW dengan potensi pendapatan hampir Rp1 triliun per tahun dan laba usaha Rp645 miliar.
Tangerang Selatan menjadi proyek lebih material bagi OASA dengan kapasitas 19,6 MW. Kepemilikan 76% memungkinkan laba yang bisa dikonsolidasikan sekitar Rp337 miliar per tahun.
Untuk tender Danantara, OASA diperkirakan menargetkan proyek PSEL di Bogor dan Denpasar. Keberhasilan tender akan menentukan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA)
SOFA belum memiliki aset WTE atau proyek PLTSa berjalan. Namun, perusahaan menegaskan posisi sebagai peserta tender Danantara melalui anak usaha PT Parivarta Energi Nusantara.
Konsorsium yang dibentuk bersama Hunan Construction Engineering Group dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. khusus untuk mengikuti lelang WTE. Hingga kini, SOFA belum mencapai tahap konstruksi, sehingga prospek bergantung pada hasil tender.
Jika berhasil, SOFA bisa memperoleh katalis pertumbuhan signifikan. Jika gagal, narasi WTE perusahaan kembali menjadi wacana belaka.