Hidrogen Dorong Manufaktur Hijau Energi Masa Depan

Selasa, 10 Februari 2026 | 15:07:57 WIB
Hidrogen Dorong Manufaktur Hijau Energi Masa Depan

JAKARTA - Peralihan menuju sistem energi rendah karbon semakin menguat seiring meningkatnya perhatian pada hidrogen dan manufaktur hijau. 

Kedua pendekatan ini dinilai mampu mempercepat transformasi industri sekaligus menekan emisi karbon secara bertahap. Diskursus global tentang energi bersih mendorong lahirnya berbagai gagasan teknologi yang kian relevan bagi masa depan.

Dalam sebuah forum ilmiah internasional, para peneliti menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara dalam pengembangan teknologi energi bersih. Diskusi ini menempatkan hidrogen sebagai salah satu komponen strategis dalam peta jalan transisi energi dunia. Selain itu, sektor manufaktur juga dipandang perlu bertransformasi menuju praktik yang lebih hijau.

Kebutuhan akan solusi energi rendah karbon mendorong percepatan riset dan inovasi teknologi. Perubahan paradigma ini diharapkan mampu menjawab tantangan industri modern yang menuntut efisiensi dan keberlanjutan. Pendekatan terintegrasi antara energi dan manufaktur menjadi fondasi penting bagi arah pembangunan jangka panjang.

Peran Strategis Hidrogen

Hidrogen diposisikan sebagai komoditas energi masa depan yang memiliki potensi besar untuk sektor industri dan transportasi. Permintaan global terhadap hidrogen diproyeksikan terus meningkat hingga pertengahan abad. Namun, adopsi aplikasi baru hidrogen masih tergolong lambat dalam skala kebutuhan aktual.

aplikasi baru terhadap total permintaan hidrogen masih sangat kecil. Ini menandakan perlunya percepatan riset, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan,” kata Ta-Hui Lin. Pernyataan ini mencerminkan adanya kesenjangan antara potensi besar hidrogen dan pemanfaatannya di lapangan.

Ia menegaskan bahwa hidrogen hijau menjadi opsi paling berkelanjutan untuk masa depan energi. “Riset lanjutan pada teknologi produksi dan pemanfaatan hidrogen hijau menjadi kunci untuk mencapai netralitas karbon global,” ujarnya. Pandangan ini menempatkan hidrogen hijau sebagai poros utama dalam agenda transisi energi dunia.

Terobosan Proses Berbasis Air

Pengembangan teknologi pengolahan energi berbasis hidrogen diarahkan pada aspek keselamatan dan efisiensi. Pendekatan baru dirancang untuk menggantikan proses deoksigenasi konvensional yang memiliki risiko keselamatan tinggi. Inovasi ini membuka peluang penerapan proses industri yang lebih aman.

Menurut dia, penggunaan air memungkinkan proses reaksi dan pemisahan produk berlangsung secara bersamaan, sehingga meningkatkan efisiensi energi dan keselamatan proses industri. 

“Kami mengembangkan pendekatan berbasis air melalui proses hidrotermal, sehingga penghilangan oksigen dapat dilakukan tanpa kondisi kering atau bahan berbahaya,” kata Lee. Pendekatan ini dinilai relevan bagi transformasi proses industri hijau.

Pendekatan serupa juga ditawarkan melalui reaksi hidrotermal dan hidrosolvolisis berbasis air. “Keunggulan utama metode ini adalah integrasi antara reaksi dan pemisahan produk dalam satu sistem,” ujar Tegoeh. Integrasi proses dinilai mampu menyederhanakan tahapan produksi sekaligus menekan konsumsi energi.

Inovasi Pemurnian dan Material

Pengembangan pemurnian hibrida menjadi salah satu fokus riset lanjutan dalam proses berbasis air. Pemanfaatan CO₂ superkritis sebagai media proses dinilai membuka peluang aplikasi industri yang lebih luas. Inovasi ini berpotensi memperluas spektrum teknologi hijau di sektor energi dan manufaktur.

Fokus riset jangka dekat diarahkan untuk mendukung transisi menuju sistem energi dan proses industri yang lebih bersih. Pendekatan ini menekankan pentingnya keberlanjutan dalam setiap tahap produksi. Integrasi teknologi bersih diharapkan mempercepat adopsi praktik industri ramah lingkungan.

Di sektor manufaktur, penerapan prinsip hijau dan cerdas dipandang krusial untuk menjawab tantangan industri modern. Integrasi keberlanjutan dengan kecerdasan buatan mampu meningkatkan efisiensi energi dan memperpanjang umur alat. Pendekatan ini juga berkontribusi dalam menekan limbah produksi secara signifikan.

Manufaktur Hijau dan Ekonomi Sirkular

“Teknologi seperti nano-coolant, pembelajaran mesin, dan pemeliharaan prediktif terbukti menurunkan konsumsi energi dan biaya produksi secara signifikan,” kata Ahmad. Pemanfaatan teknologi cerdas dinilai mempercepat transformasi manufaktur hijau. Dampaknya terlihat pada efisiensi proses dan penghematan sumber daya.

Pemanfaatan limbah industri dan pertanian dipandang memiliki potensi besar sebagai material ramah lingkungan. Limbah tandan kosong sawit dan bulu ayam dinilai dapat dikembangkan menjadi material komposit bernilai tambah. Pendekatan ini membuka peluang pengembangan produk baru berbasis sumber daya terbarukan.

“Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat prinsip ekonomi sirkular dan daya saing industri hijau,” ujarnya. Gagasan tersebut menekankan keterkaitan antara inovasi material dan keberlanjutan industri. Sinergi energi hidrogen dan manufaktur hijau diharapkan mempercepat terwujudnya sistem industri rendah karbon yang tangguh.

Terkini